Breaking News
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Thursday, July 23, 2015

PAK DAPAN CINTA DENGAN OLAHRAGA SEJAK KECIL

Menjadi yang kedua bukan berarti buruk, meski semua orang berharap untuk menjadi yang pertama.  Seperti tamu Pioneer kali ini yang mengangkat profil tentang orang kedua di UNY Kampus Wates, Drs. Dapan, M.Kes. Berada di posisi kedua inilah, sang tokoh menjadi dekat dengan mahasiswa. Buletin Pioneer berhasil menelusurinya untuk edisi kedua ini. 

Di usianya yang tak lagi muda, bapak tiga anak ini nampak selalu energik. Kesehariannya tak lepas dari aktivitas olahraga, terlebih ia memang berkecimpung dalam bidang yang sama. Pak Dapan, sapaan akrabnya gemar bermain tenis lapangan. Bahkan sesekali bapak kelahiran 12 Oktober 1957 bermain dengan para penghuni rusunawa. 

“Para mahasiswa harus terus menjaga kebugaran jasmani dengan berolahraga,” ujarnya berpesan.
 
Kepada Pioneer ia bercerita tentang kegemarannya pada dunia olahraga sejak masih anak-anak. Saat itu Dapan kecil masih duduk di SD Sono 2 hingga lulus tahun 1972. Usai menamatkan SD, ia melanjutkan ke SMP Dana Cipta sampai tahun 1975. Hingga memasuki usia remaja ia bersekolah di STM Patimura sampai tahun 1978. 

Kecintaan pada olahraga diseriusi saat ia memilih melanjutkan kuliah. Prestasi akademik diraihnya hingga mendapat gelar sarjana muda dari IKIP Yogyakarta saat itu. Di kampus almamaternya ini ia mengabdikan diri sebagai dosen PJKR. Tak butuh waktu lama usai mendapat gelar sarjana, Dapan muda kembali menjadi mahasiswa. Saat itu ia mengambil Program Pasca Sarjana di Universitas Airlangga Surabaya hingga tahun 1988.
(Dona)

Read more ...

BU LURAH SEMPAT KESULITAN BERBAHASA JAWA

Siapa yang tak kenal Endang Mardiah? Dara asli Minang ini diamanahi menjadi bu lurah di asrama putri. Sebagai perantauan baru di tanah Jawa, ia tak pernah menyangka akan didaulat menjadi penyambung lidah teman-temannya dengan birokrat kampus. Bagi Endang, menjadi bu lurah adalah amanah dari orang banyak.
 
“Menjadi bu lurah itu tanggungjawabnya besar, karena bukan hanya tanggungjawab sama UNY, tapi sama Tuhan juga,” ujarnya.
 

Siapa sangka di balik paras feminimnya ternyata ia gemar jalan-jalan dan nonton film. Saat ada waktu luang biasanya ia menyempatkan diri untuk bisa mengenal lingkungan kampus. Setahun menjadi orang Jogja, ia terobsesi ingin membawa cerita dan pengalaman ke kampung halaman, Riau. Bercerita tentang pengalaman pertamanya mendarat di Jawa, kata Endang ia mengalami kesulitan berkomunikasi karena perbedaan bahasa. Tapi tak lama ia langsung bisa menyesuaikan diri. Bagi Endang dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.
 
Dara kelahiran 9 Februari 1989 ini bergabung dengan LPTK Universitas Negeri Padang (UNP) saat menjadi guru SM-3T. Ia tertarik pada dunia anak, sehingga semasa kuliah Endang mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) di UNP. Endang kecil pernah bercita-cita menjadi guru, semesta telah mengabulkan. Belum cukup, kali ini ia ingin menjadi tenaga profesional di bidangnya sehingga bisa memberi kebermanfaatan bagi orang lain. Pengusaha sukses juga merupakan cita-cita keduanya setelah guru.
 
Perjalanan Endang sejauh ini tentu diraihnya dengan penuh perjuangan. Bahkan sebelum bergabung dengan SM-3T, gadis penyuka bakso ini pernah menjadi karyawan dalam sebuah perusahaan swasta. (Ijul)
Read more ...

Wednesday, April 29, 2015

PAK LURAH YANG NYENTRIK

Gaya slenge’an menjadi ciri khasnya saat berlangsung pemilihan pejabat rusunawa. Namun karena gaya ini pula ia menjadi akrab dengan para penghuni rusunawa khususnya di asrama putra. Hingga pemilik nama lengkap Miftahul Khoir Abdurrahman ini didaulat menjadi Lurah di kampung barunya (asrama putra-red).
Miftah (Lurah Asrama Putra)
Mendengar pengakuannya yang bergaya bicara ceplas-ceplos, pria asli Blora  ini pernah ditegur Pak Dapan, Bapak Asrama Putra saat ada monitoring dan evaluasi (monev) dengan LPPMP. “Le, sendalmu murah yo?” tanya Pak Dapan waktu itu. Alih-alih cari aman, Miftah menjawab dengan santai. “Wah cuma punya ini pak, mau beli tapi belum gajian,” jawab dia.
Siapa sangka dibalik familiarnya Miftah, ternyata ia juga bisa serius saat-saat tertentu. Semangat juangnya tinggi dan bertekat mencapai tujuan menjadi guru profesional. Ia mengawalinya dengan mengabdi di Gayo Luwes, Aceh. Baginya hidup itu menapaki waktu, bukan melompat atau terbang. Maka hadapi yang ada di depan mata dan jangan sekali-kali larut dalam andai-andai masa lalu atau masa depan.
Buah hati pasangan Suwardi dan Siti Rodhiyah juga mempunyai cerita tentang pengalamannya berorganisasi. Semasa SMA, kata dia pernah menjabat sebagai Ketua OSIS dan aktif pula dalam kegiatan Pramuka. Dari pengalamannya ini, ia berusaha menjadi pemimpin yang mumpuni. Terlebih pria kelahiran 10 Oktober 1990 ini menjadi penyambung aspirasi ‘rakyatnya’ dengan pihak kampus. “Menjadi pemimpin bagi saya adalah sarana pertaubatan untuk merubah tingkah laku yang kurang baik,” ujar Miftah.
Sarjana Biologi lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta ini sangat berantusias mengeksplor ilmu-ilmu tentang alam. Ia pun memantapkannya dengan turut serta dalam Diklat Pecinta Alam Sangguru hingga membawanya pada jabatan sekertaris Federas Panjat Tebing Indonesia Cabang Sukoharjo periode 2010-2014. Tak berhenti sampai disitu Miftah juga terpilih menjadi bahan pertimbangan menjadi juri dalam kejuaraan panjat tebing di tingkat lokal maupun nasional. Kecintaannya terhadap lingkungan alam juga tak membuatnya lupa dengan kesenian. Hingga ia dinobatkan sebagai Duta Seni Kabupaten Blora tahun 2008 sampai sekarang. (Endang, Willy)
Read more ...

TERBANG KE JOHOR BERKAT SENI

Sukses bukanlah jabatan dan kekayaan, tetapi sukses adalah bila hidup bermakna bagi sesama  atas apa yang kita miliki.
 
Pak Bambang
Begitu penggalan kalimat yang menggambarkan sukses menurut Pak Bambang. Pria kelahiran Kulon Progo, 23 Juli 1961 ini mengawali karir menjadi dosen di Universitas Negeri Yogyakarta. Sejak tahun 1992 silam ia membulatkan tekad untuk meninggalkan cita-cita lama menjadi seorang polisi seperti yang diinginkan orangtuanya. Pemilik nama lengkap Bambang Saptono meyakini bahwa menjadi apapun tak masalah yang terpenting adalah dapat memberi makna bagi sesama. Tekad ini pula yang dipegang kuat-kuat hingga ia dipercaya menduduki jabatan tertinggi di UNY Kampus Wates.
 
Perawakan pria yang pernah menjadi Ketua Komisi III Senat FIP UNY ini ramah,  sehingga ia mudah beradaptasi dengan sesama. Siapa sangka, sosok berkacamata ini mempunyai hobi unik yaitu berkesenian. “Sejak kecil saya tertarik dengan kesenian Jawa. Pernah juga belajar tari dan karawitan, malahan sempat bercita-cita menjadi seniman,” ujarnya.
 
Kesenian telah mengantarkan Bambang muda terbang ke Johor, Malaysia sebagai juara tari tingkat nasional mewakili IKIP Yogyakarta saat itu. Lulusan almamater tempatnya mengabdi saat ini dulunya menempuh pendidikan jurusan filsafat dan sosiologi pendidikan pada 1985 silam. Hobi berkesenian diasahnya dengan maksimal saat ia duduk di bangku kuliah. Bapak dua anak ini juga aktif berorganisasi di kampus, bahkan pernah menjabat sebagai Ketua UKM Seni Tari dan Karawitan. Tak hanya itu, organisasi lain pun ditaklukannya dengan menjadi sekretaris Senat Mahasiswa FIP dan Ketua HIMA.
 
Dari kesuksesannya saat ini, siapa yang menyangka kalau Bambang dibesarkan dari keluarga yang sederhana. Sang ayah hanyalah lulusan Sekolah Rakyat (SR) yang setara dengan Sekolah Dasar (SD) saat ini. Mengagumi sang ayah adalah salah satu bentuk pengabdiannya sebagai seorang anak.
 
Kata dia, meski ayahnya hanya lulusan SR namun bisa mencapai pangkat Mayor Polisi, bahkan menjadi anggota DPRD selama dua periode. Semangat, kerja keras, kejujuran, dan kedisiplinan yang tinggi dari sosok ayah menginspirasinya untuk terus memberi manfaat bagi orang lain.
 
Inspirasi itu pula yang ingin ia tularkan kepada anak-anaknya di Kampus Wates. Apalagi bagi para peserta PPG yang saat ini sedang menempuh pendidikan. Para sarjana yang tergabung dalam SM-3T disebutnya sebagai pengajar muda.
 
“Saya acungi jempol setinggi-tingginya bagi mahasiswa yang ikut SM-3T. Dialah pejuang pendidikan yang rela mengorbankan jiwa, raga, dan keluarga demi mencerdakan anak-anak bangsa. Semangat inilah yang harus dikobarkan didada anak muda,” kata dia.
 
Pengalaman panjang membuatnya tahu betul bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Kepada Pioneer, Pak Bambang memberikan wejangan bagaimana mengelola suatu masalah, mengingat hidup bersosial tak akan lepas dari perbedaan cara pandang. Kata dia, tidak ada yang sempurna dalam kehidupan di dunia. Kekurangan dan kesalahan yang telah diperbuat tak lantas menjadikan kita frustasi dan tidak mau belajar. Mengakui kesalahan dan memperbaiki diri adalah kunci mencapai sukses. (Endang, Willy)
Read more ...
Designed By Published. TIM Blogger Pioneer