Breaking News
Showing posts with label EduNews. Show all posts
Showing posts with label EduNews. Show all posts

Thursday, July 23, 2015

PENDIDIKAN SENJATA UNTUK BERBISNIS

Profesi tertua yang mengiringi perkembangan peradaban manusia di muka bumi adalah guru. Hingga sekarang profesi ini tetap eksis dan terus berkembang. Daud Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia juga pernah berujar bahwa di dunia ini hanya ada dua profesi, yaitu guru dan selain guru (dokter, pengacara, akuntan, arsitek, dll). Ini mengisyaratkan bahwa menjadi guru berarti sudah mengambil setengah dari segenap profesi yang ada di dunia.
 
Profesi guru tidak hanya diminati oleh mereka yang berlatarbelakang pendidikan saja. Banyak sarjana non kependidikan yang pada akhirnya ikut menceburkan diri dalam dunia pendidikan. Satu di antaranya adalah tenaga pengajar pada pendidikan non formal seperti bimbingan belajar (bimbel). Ini menandakan selain eksis, profesi guru memang paling efektif untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan bangsa Indonesia. 

Munculnya bimbingan belajar memang membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun hal ini juga memicu pertanyaan tentang kualitas pendidikan di sekolah formal. Bisa jadi para siswa yang belajar ke bimbel adalah untuk memperdalam materi pelajaran yang didapatnya di sekolah. Namun bisa pula dikarenakan pembelajaran di sekolah belum mampu dipahaminya dengan baik. Permasalahan kedua ini yang sepertinya perlu dianalisis bersama dengan kemunculan bimbel.

Apabila dilihat dari sudut pandang lain, bimbel juga menguntungkan banyak pengusaha. Baik mereka yang berlatar belakang pendidikan, maupun non kependidikan. Saat ini kemunculan bimbel seolah menjadi ajang bisnis yang marak di Indonesia. Meski tak bisa dipungkiri bahwa di sisi lain juga membawa kebermanfaatan. 

Di era global yang penuh transparansi dan keterbukaan seperti sekarang, pendidikan menjadi sasaran bisnis yang empuk. Namun hal ini tak akan menjadi persoalan besar selama ghiroh pendidikan masih terjaga. Ki Hadjar Dewantara pernah menyampaikan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia. 

Mencoba melihat sudut pandang dari pengusaha, bahwa pendidikan adalah hal yang menguntungkan. Bisnis pada akhirnya dinilai dengan kemampuan seseorang untuk mengembangkan pendidikan yang telah didapatnya. Akhirnya ilmu yang paling mahal adalah mencoba bisnis itu sendiri. 

M. Suyanto, pendiri STIMIK Amikom Yogyakarta mengibaratkan bahwa memulai bisnis itu seperti sekolah atau kuliah. Apabila merugikan maka sama halnya dengan mahasiswa membayar SPP kuliah, sedangkan kalau menguntungkan itu berarti mendapat beasiswa. Keuntungan tidak akan diperoleh apabila tidak mencoba. Maka disitulah pendidikan membawa kebermanfaatan bagi pebisnis yang sedang melanggengkan usaha.
 
Meski mampu mendirikan kampus, mengajar, dan pernah menjadi guru namun Suyanto muda bukanlah sarjana pendidikan. Maka disitulah pendidikan telah mengantarkannya berkecimpung dalam dunia pendidikan. Terlebih saat ini, Indonesia sedang gencar mempersiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi pasar bebas. Pebisnis yang menguasai pendidikan pun sangat dibutuhkan. Indonesia masih banyak membutuhkan entrepreneur untuk bisa terus mengembangkan pendidikannya.
 
“Pendidikan kita dapat dipakai sebagai senjata untuk memulai bisnis,” ujarmya.
 
Menurut Suyanto, ketika ia diterima di FMIPA Fisika Universitas Gadjah Mada, itu berarti ia telah mempunyai bekal ilmu untuk memulai bisnis. Ia bergabung dengan kawan-kawannya dan menciptakan peluang bisnis berupa bimbingan belajar. Persaingan terbuka saat ini tidak hanya memberikan tempat bagi para ahli (highly skilled), namun juga bagi mereka yang mempunyai attitude. (Amin)



Read more ...

Wednesday, May 13, 2015

ENTERPRENEURSHIP DAN PROFESIONALISME GURU DI ERA MEA

Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-51 Universitas Negeri Yogyakarta Kampus Wates menyelenggarakan Seminar Nasional dengan Tema “Entrepreneurship dan Profesionalisme Guru di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”, Sabtu (2/5/2015). Dalam seminar ini menghadirkan dua pembicara yang sangat inspiratif yaitu Prof. Suyanto, Ph.D mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta dan Prof. M Suyanto, MM pendiri sekaligus Direktur Sekolah Tinggi Manajemen Informatika (STIMIK) Amikom Yogyakarta, dengan moderator yang tidak kalah menarik yaitu Prof. Sukirno, Ph.D.

Dalam seminar ini Prof. Suyanto, Ph.D menyampaikan beberapa tantangan menuju MEA 2015, tantangan internal meliputi daya saing dan produktivitas nasional, iklim usaha, sumber daya manusia, infrastruktur dan sistem logistik-distribusi nasional, dukungan Research & Development, ASEAN sebagai pasar ekspor, meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai atau suplai di kawasan dan global. Sedangkan tantangan eksternal yang meliputi pemenuhan komitmen terhadap Road map menuju MEA 2015 secara individu dan kolektif di ASEAN, penyelarasan kebijakan nasional dengan integrasi kawasan, Political will dari seluruh anggota ASEAN, dan Sistem hukum dan perundang-undangan yang berbeda di setiap Negara ASEAN.

Siap ataupun belum siap MEA tetap akan dihadapi bersama oleh negara-negara di ASEAN. Kekhawatiran dan fakta terkait tenaga kerja profesional ASEAN yang akan membanjiri pasar tenaga kerja Indonesia, hal ini akan menjadi tantangan bersama dalam upaya peningkatan SDM, untuk itu tuntutan sebagai guru profesional harus benar-benar direalisasikan. Guru yang profesional merupakan faktor utama dalam proses penanaman dan pembiasaan karakter bagi siswa. Dalam proses pembelajaran, guru professional harus berkompeten dalam to describe, to explains, to illustrate, to demonstrate, dan yang terpenting adalah to inspire. Sehingga dari proses pembelajaran tersebut dapat menghasilkan siswa yang kreatif dan inovatif yang dapat menjawab tantangan global seperti MEA.

Prof. Mohammad Suyanto, MM dalam seminar ini menyampaikan setiap orang bisa menjadi entrepreneurship sukses, kuncinya adalah kita harus bisa membangun sikap mental positif, berani menciptakan mimpi, memvisualisasikan mimpi, dan segera mengambil langkah untuk memulai bisnis. Sebagai pendiri sekaligus Direktur STIMIK Amikom Yogyakarta beliau memberikan motivasi dan inspirasinya dalam mendirikan sekolah tersebut. Banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam mendirikan sekolah tinggi tersebut, namun setiap ada masalah di ujung tanduk, beliau percaya bahwa Tuhan akan memberikan ilmunya yang luar biasa, hingga pada saat ini STIMIK AMIKOM dapat menjadi a private university who be entrepreneurship university yang telah banyak memperoleh National Award maupun International award.

Pendidikan merupakan tindakan atau pengalaman yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan pikiran, karakter dan kemampuan fisik individu. Pendidikan juga didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran yang aktif. Peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Untuk itu pendidikan dapat dijadikan sebagai senjata untuk memulai bisnis sesuai yang disampaikan Prof. Mohammad Suyanto, MM.

Harapan dari kegiatan seminar ini dapat memberikan inspirasi bagi semua untuk menjadi pendidik yang profesional dan berjiwa entrepreneurship, dan tentunya siap dalam menghadapi tantangan MEA 2015. Kegiatan seminar ini kemudian ditutup dengan penampilan dari grup paduan suara PPG SM-3T UNY “Cendekianada” dengan menyanyikan Mars UNY dan Hymne UNY, setelah itu dilanjutkan dengan presentasi pemakalah dengan bidang kajian entrepreneurship dalam bidang pendidikan, dan profesionalisme guru yang dibagi dalam beberapa kelompok penyaji makalah. (Amin Fitriyah)

Read more ...

Saturday, May 9, 2015

SERTIFIKASI GURU JADI PRIMADONA



Kalau Kaisar Jepang menanyakan berapa jumlah guru yang masih hidup usai jatuhnya bom atom, saat ini pertanyaan yang tepat bagi kita adalah berapa jumlah guru yang ada di pedalaman Indonesia? Jawabannya masih sedikit. Kata Sedikit tidak dapat menggambarkan angka pasti karena memang benar-benar sedikit bahkan nyaris tidak ada di beberapa daerah. 

Pengalaman setahun mengajar di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) membuktikan bahwa Indonesia masih kekurangan tenaga pendidik yang kompeten. Tak dipungkiri kesejahteraan guru di daerah pedalaman memang masih jauh dari harapan. Hanya saja yang menggiurkan bagi kalangan pendidik satu ini adalah adanya jaminan sertifikasi. Padahal jaminan ini belum mampu menjangkau pendidikan di pelosok negeri. Sertifikasi hanya menjadi primadona di kalangan pendidik ‘kota’ yang kategori kualitas pendidikannya sudah tergolong maju, bukan tertinggal.

Sertifikasi tak dapat terlepas dari tolak ukur kesejahteraan guru di Indonesia. Tak heran jika saat ini yang menjadi prioritas abdi negara satu ini adalah tunjangan sertifikasi. Pemerintah pun menetapkan banyak kebijakan bagi para guru untuk mendapatkan tunjangan ini. Seharusnya ada sinkronisasi antara tujuan dibuatnya kebijakan dengan kinerja guru sehingga tercipta pendidikan yang berkualitas. 

Sertifikasi guru bisa ditempuh dengan berbagai jalur yaitu melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan dengan beasiswa SM-3T, Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), Pemberian Sertifikasi Pendidik secara Langung (PSPL), dan Portofolio. Banyaknya kebijakan yang diterapkan pemerintah seharusnya dapat menjawab kebutuhan guru hingga di pelosok negeri. Kemana saja 20 persen alokasi dana pendidikan kalau hanya guru yang sejahtera, sedangkan anak-anak pedalaman masih asing dengan yang namanya sekolah.

Mengenali satu per satu jalur sertifikasi, semoga kita tidak termasuk golongan yanga hanya mencari ‘sertifikat’ saja. Namun setidaknya mempunyai niatan untuk ikut andil menjawab kekurangan guru di daerah pedalaman. Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditempatkan di titik-titik pedalaman Indonesia semoga bisa menjadi pelita di kegelapan mereka. Peserta SM-3T sebelumnya harus melewati serangkaian seleksi yang meliputi administrasi, kemampuan akademik, wawancara, kesehatan, dan prakondisi sebelum diterjunkan di lapangan selama satu tahun. Setelah menyelesaikan tugas pengabdiannya kemudian ditarik kembali untuk mengikuti PPG Prajabatan melalui program beasiswa.

Satu hal yang menjadi pertanyaan adalah akan dikemanakan alumni PPG SM-3T? Pemerintah menyudahi kontrak setelah peserta mendapat gelar guru profesional. Setelah menggelontorkan dana yang tak sedikit untuk program PPG SM-3T hasilnya pun masih abu-abu. Meski baru-baru ini dihadirkan formasi khusus untuk mengikuti seleksi CPNS, namun cara ini belum tepat untuk dijadikan solusi menjawab kekurangan guru di pelosok negeri. Bisa saja para alumni tak lagi tertarik untuk mengajar atau memilih menjadi guru di ‘kota’, lagi-lagi distribusi guru pun belum merata. Akan lebih baik apabila lulusannya dikembalikan ke daerah yang memang benar-benar membutuhkan guru, ini akan lebih efektif untuk menjawab kekurangan guru Indonesia. Terlepas bersedia atau tidak untuk dikembalikan ke daerah penempatan, ini adalah sebuah konsekuensi mengikuti program yang digalang pemerintah. Seperti menghambur-hamburkan dana alokasi pendidikan, sertifikat profesi PPG Prajabatan baru bisa digunakan untuk pengajuan sertifikasi setelah peserta menjadi guru dalam satu lembaga pendidikan dan sudah mempunyai NUPTK.

Memang tidak mudah untuk mendapatkan sertifikasi, masih ada tahapan dan persyaratan lainnya yang harus dipenuhi untuk mendapatkan tunjangan profesi, apalagi bagi mereka yang mendapatkan sertifikat profesi melalui program PPG SM-3T. Entah akan menjadi angin segar atau malah harapan palsu, sertifikat profesi guru hasil PPG SM-3T ini akan dijadikan sebagai syarat wajib mengikuti tes CPNS tahun 2016. Itu berarti alumni PPG SM-3T mempunyai peluang untuk mengikuti tes CPNS. Hal ini tidak bisa menjadi jaminan untuk pemerataan pendidikan hingga pelosok negeri, namun hanya akan menguntungkan guru yang bersertifikat.

Perlu kita ketahu bersama, bahwa sertifikat profesi yang akan kita peroleh setelah lulus dari program PPG SM-3T (PPG Prajabatan) belum bisa diproses untuk langsung mendapatkan tunjangan sertifikasi. Terkecuali bagi mereka yang mengikuti program PPG dalam Jabatan, setelah lulus dan mendapatkan sertifikat profesi mereka sudah langsung bisa mengajukan dan mendapatkan tunjangan profesinya. Hal tersebut dikarenakan mereka sudah menjadi guru dalam suatu lembaga pendidikan minimal sudah lima tahun masa jabatan dan sudah mempunyai NUPTK. Hal demikian yang membedakan fungsi dari sertifikat profesi yang diperoleh dari PPG Prajabatan dan PPG dalam Jabatan. (*)

Read more ...
Designed By Published. TIM Blogger Pioneer