Breaking News
Showing posts with label Fokus. Show all posts
Showing posts with label Fokus. Show all posts

Thursday, July 23, 2015

PERSAINGAN TENAGA PENDIDIK DALAM PASAR BEBAS


Baru kali ini sepanjang sejarah, Indonesia menerapkan dua kurikulum dalam waktu yang bersamaan. Meski dengan alasan logis, bahwa ada perbedaan kesiapan di beberapa sekolah, namun hal ini terkesan rancu. Kurikulum 2013 (K13) dirancang istimewa seolah diperuntukkan bagi kalangan istimewa pula. Adalah mereka yang sudah dianggap siap dengan tantangan zaman yang menerapkan K13. Sedang Kurikulum 2006 diperuntukkan bagi sekolah dengan kalangan ‘lama’ yang notabene belum siap dengan perubahan.

Wacana tentang kurikulum tidak akan basi untuk dibahas selama pendidikan belum mencapai kata layak. Ini baru analisa yang paling mendasar dari sistem yang menjadi garda depan proses pembelajaran. Belum lagi dengan persaingan zaman di luar sana yang memaksa siapa pun untuk selalu siap, termasuk kepada sekolah dengan kurikulum lama.


Baru-baru ini ramai dibahas tentang persiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Beberapa lini sedang gencar memantaskan diri untuk bisa bersaing dalam pasar bebas se-Asia Tenggara, termasuk lini pendidikan.

Ketidakmerataan pendidikan di Indonesia menjadi masalah rumah tangga yang semestinya sudah selesai jauh-jauh hari sebelum dilancarkannya MEA. Guru Besar Fakultas Ekonomi UNY, Prof. Suyanto, Ph.D dalam seminarnya pernah menyampaikan tantangan guru menuju MEA. Menurutnya, secara internal Indonesia seharusnya memiliki daya saing dan produktivitas tinggi. Sumber daya manusianya juga dituntut memiliki spesialisasi, kompetensi, etos kerja, kultur, dan produktivitas yang tinggi pula. Sedangkan secara eksternal, harus ada pemenuhan komitmen terhadap roadmap menuju MEA 2015 baik secara individu maupun kolektif di ASEAN.

Melihat orientasi MEA yang lebih mengarah pada hasil finansial, tentu tak sejalan dengan konsep pendidikan Indonesia yang berpegang teguh pada pembangunan karakter. Kurikulum 2013 gencar menyuarakan pembentukan karakter bagi peserta didik, namun sudahkah sejalan dengan persiapan menghadapi persaingan secara internasional? Pertanyaan ini seharusnya menjadi refklesi tersendiri dalam dunia pendidikan.

Satu hal yang menjadi kekhawatiran nantinya adalah tenaga kerja profesional ASEAN yang bisa membanjiri pasar tenaga kerja Indonesia. Hal ini akan semakin menggerus posisi tenaga pendidik dalam negeri. Sedang tenaga profesional Indonesia akan memilih pasar luar negeri yang lebih menjanjikan.

“Saat ini kondisi Indonesia terbilang lemah dalam daya saing nasional, apalagi nanti secara internasional. Begitu juga dengan kesiapan teknologi nasional yang masih rendah pula,” kata Prof. Suyanto, Ph.D.

Dr. Paidi, Dosen FMIPA UNY dalam kuliah umumnya (29/5) mengatakan saat ini sistem pendidikan Indonesia lebih menekankan higher order thinking skill. Dikatakan bahwa kondisi pendidikan Indonesia masih sangat kurang dalam foundational knowledge, berpikir tidak kreatif (konvergen), dan masih mudah dipengaruhi.

Kondisi ini akan menjadi persaingan bagi para pendidik profesional. Saat ini, di dalam negeri pun sudah terjadi antrean panjang untuk mengisi kekosongan tenaga pendidik. Setelah pasar bebas ASEAN dibuka secara resmi, tentu daftar antrean panjang tenaga pendidik akan bertambah. Berbagai kemungkinan akan terjadi. Jangan sampai Indonesia kembali ‘bekerja di rumah sendiri’ seperti yang terjadi pada awal abad 20.  (Pipit)
Read more ...

Saturday, May 9, 2015

GURU BERKOMPETEN MENGUASAI K13

Oleh: Fitri Nurhayati

Beberapa tahun lalu, kita masih bisa menjumpai anak SD yang menggendong tas berisi buku-buku sekolah. Mulai dari buku tulis, buku paket, LKS, sampai sumber belajar lain yang dikemas menjadi satu dalam tas mereka. Mungkin tas mereka berat, seberat tuntutan ilmu yang harus dikuasai. Namun, hal seperti itu sudah jarang dijumpai sekarang. Dalam tas anak SD sekarang, paling hanya berisi satu atau dua buku yang sudah mencakup beberapa mata pelajaran. Bisa dibayangkan betapa padatnya isi buku baru mereka ini.
Hal ini terjadi di beberapa sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 (K13). Konsep pembelajaran tematik mengacu pada tema-tema tertentu sehingga beberapa mata pelajaran dikerucutkan menjadi satu pembahasan atau satu buku saja. Berbeda dengan pembelajaran di SD, pembelajaran di SMA tidak menerapkan pembelajaran tematik namun menerapkan konsep based-learning. Dalam konsep ini, peserta didik harus aktif di dalam kelas untuk menguasai materi tertentu.
 
Menurut Nurhadi, M.Si (Dosen Pendidikan Geografi-red), K13 adalah kurikulum yang istimewa. Seistimewa konsepnya, tingkat kerumitannya pun sepadan. Mulai dari persiapan guru sebelum melakukan pembelajaran, sampai pada tahap penilaian. Keaktifan siswa menjadi tujuan utama untuk membentuk karakter mereka. Diharapkan ketika terjun di masyarakat nanti, mereka sudah memiliki sifat jujur, disiplin, dan mandiri.
 
Berbicara soal pendidikan di Indonesia, masih ada 1001 masalah yang menyelimuti. Beragam solusi ditawarkan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini. Satu diantaranya adalah melalui K13 yang berbasis karakter. Entah karakter seperti apa yang dimaksudkan karena sejauh ini para pelakunya pun masih meraba-raba. Hasilnya pun belum nampak jelas. Apalagi hanya beberapa sekolah yang menyatakan siap menerapkan K13, sedang yang lainnya masih dengan kurikulum sebelumnya (KTSP-red). Seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013, tidak semua sekolah siap untuk merubah mindset, pola, dan konsep mengajar.
 
Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, pernah berujar bahwa pendidik hanya bisa merawat, bukan memaksa. Tapi pemerintah saat ini memaksakan penyeragaman anak sekolah di Indonesia. Jika diperhatikan secara mendasar, sebenarnya bukan persoalan kurikulum yang perlu dipusingkan sebagai tawaran solusi mengatasi masalah pendidikan. Pada kenyataanya, yang paling memiliki pengaruh dalam memajukan pendidikan dan mencerdaskan anak-anak bangsa adalah guru.
 
Di balik pembicaraan soal sistem yang rumit, kurikulum, peraturan menteri, seminar yang berderet, bahkan alokasi dana pendidikan yang mencapai 20 persen, sejatinya guru lah yang berdiri di depan kelas menemani anak-anak menuntut ilmu. Namun begitu, melihat guru di Indonesia pun tak terlepas dari berbagai masalah. Mulai dari pendistribusian guru yang tidak merata, kesejahteraannya yang tidak terjamin, hingga yang paling urgent adalah kompetensi guru yang masih perlu ditingkatkan. Kalau sudah begini, bagaimana akan tercapai proses pembelajaran yang baik jika K13 belum betul-betul dikuasai para guru. Pemerintah hendaknya menjamin kompetensi guru, mempersiapkannya agar benar-benar mampu dan siap mendidik. Hadirnya mereka di sekolah bukan hanya mengajar, namun juga memberi inspirasi para siswa.
 
Pada kurikulum yang baru ini, peran utama guru adalah sebagai fasilitator di dalam kelas. Salah besar jika banyak orang menganggap bahwa peran guru di dalam kelas lebih ringan dari yang sebelumnya. Pada prinsipnya, menjadi fasilitator tugasnya jauh lebih berat. Ia tidak hanya bertanggungjawab meningkatkan aspek pengetahuan saja, namun juga harus mempertimbangkan aspek spiritual, sosial, dan keterampilan anak. Maka hendaknya pemerintah mematangkan kompetensi guru demi lancarnya proses pembelajaran di kelas. (*)
Read more ...
Designed By Published. TIM Blogger Pioneer